Sahabat, pernah gak sih membayangkan, seandainya kita hidup sezaman dengan Rasulullah SAW? Mungkinkah kita orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi? Atau justru kita orang-orang yang selalu menentang Nabi? Mungkinkah kita orang-orang yang selalu terdepan membela agama Allah yang dibawa Rasul? Ataukah orang-orang yang paling depan menentang Nabi?
Jikalau dengan izin Allah, kita terlahir di zaman Rasul, dengan kadar keimanan kita yang seperti ini, mungkinkah kita akan menjadi salah satu sahabat Nabi? Mungkinkah salah satu jamaahnya Nabi? Atau salah satu kader terpercayanya Nabi? Ataukah salah satu panglima perang yang luar biasa hebatnya? Atau hanya sekedar manusia biasa, yang hidup di zaman Nabi, tanpa sedikitpun menggoreskan tinta emas sejarah peradaban dunia?
Jikalau kita menjadi salah satu dari sahabat nabi, dengan keimanan kita yang seperti ini, ada di bagian manakah kita? Seberapa istiqomahkah kita bisa menjalani satu kebaikan, seperti yang dicontohkan para sahabat Nabi Abu Bakar, yang benar, membenarkan dan dibenarkan... Mengapa? Karena teguh untuk yakin pada apa yang berasal dari Allah, dan dibawa Rasulullah, yang keimanannya luar biasa.
"Andaikan iman seluruh manusia ditimbang dengan keimanan seorang Abu Bakar, niscaya lebih berat iman seorang Abu Bakar." Subhanallah... orang yang sangat dicintai Nabi, jikalau Nabi boleh mengambil kekasih selain Allah, maka iapun akan mengangkat Abu Bakar sebagai kekasihnya.
Atau seperti Umar bin Khattab, sang Al Faruq, ia sosok yang tak pernah menyembunyikan perasaannya. Jujur pada dirinya dan pada Allah, jujur pada manusia. Keras, tak kenal takut, bahkan setanpun lari ketika bertemu dengannya. Beliau juga yang mengantarkan perang-perang besar, dakwah yang terang-terangan. "Bukankah kita berada di atas kebenaran? Bukankah mereka diatas kebathilan?" Ia keras, sangat keras, namun ada suatu saat ia manusia terlembut, yaitu saat memimpin.
Ataukah seperti Utsman, Utsman Dzun Nurain atau lebih dikenal dengan Utsman bin Affan, si pemalu berakhlak mulia, yang malunya tak hanya pada manusia, tapi ia lebih malu terhadap Allah. Mandinya Utsman takkan dilakukan kecuali dalam keadaan pintu rumah terkunci, semua lubang ditutup di kamar yang paling terkendali dan terkunci, dalam sebuah bilik rapat di kamar itu, dan dipasang selubung kain yang tinggi. Itupun Utsman tidak bisa menegakkan punggungnya karena rasa malu. Ia malu jika nikmat-nikmat Allah tak bisa ia nafkahkan di jalanNya. Ia malu, jika ia kenyang namun penduduk Madinah ditimpa paceklik. Maka 1000 unta penuh muatan ia bagikan gratis kepada penduduk. (emm, kapan ya para pemimpin kita seperti ini?)
"Tidak akan membahayakan Utsman," sabda sang Nabi, "Apapun yang dia lakukan hari ini," dan Utsmanpun semakin merasa malu. Sampai di sini, adakah kita pantas menjadi salah satu sahabat Nabi?
Atau seperti Ali yang ceria? Seorang pemuda yang luar biasa, yang menggantikan tidur Rasulullah ketika terjadi kepungan. Atau seperti pedang Allah yang terhunus, Khalid bin Walid, yang memang hanya hapal sedikit ayat, namun luka di tubuhnya karena perang membela agama Allah, kelak akan menjadi saksi? Bagaimana dengan Abdurrahman bin Auf yang diberkahi dalam shodaqoh dan simpanannya. Atau bagaimana dengan Thalhah? Seorang perwira, yang menjadi perisai hidup Nabi, yang di tubuhnya ada 70 sayatan pedang, hujaman tombak dan tusukan panah. Maka jadilah ia seorang syahid yang berjalan di muka bumi. Masya Allah...
Ah... kurasa, masih banyak para pejuang dan sahabat Nabi di masa itu yang tak kalah luar biasanya. Lalu ada di mana kita? Masya Allah, kita dilahirkan di zaman ini, zaman dimana Rasul telah menjadi sebuah sejarah dunia yang luar biasa, yang keagungannya tak terbantahkan. Yang akhlaknya dapat mudah kita dengar di mana-mana. Di mana orang-orang yang mencintainya mudah kita temukan, yang sejak lahir ke duniapun kita sudah dikenalkan dengan beliau melalui kedua orangtua kita.
Tapi, jangan khawatir sobat... mungkin kita tidak ada apa-apanya dengan sahabat Nabi pada zaman itu. Tapi dengarlah dialog Nabi dengan para sahabat yang begitu menyejukkan hati. Dikutip dari tafsir Al Kabir, karya Al-Fakhr al-Razi:
“Menurut kalian, siapa yang imannya paling menakjubkan (man a’jabakum imanan)?"
Para sahabat menjawab, "Para malaikat, Ya Rasulullah."
Nabi berkata: "Bagaimana mungkin para malaikat tak beriman, padahal mereka berada di samping ‘arasy Tuhan?"
Para sahabat berkata: "Kalau begitu, para nabi Ya Rasulullah.
Nabi menjawab: "Bagaimana mungkin para nabi tak beriman, padahal kepada mereka turun wahyu Tuhan.
Kata para sahabat: "Kalau begitu, kami ya Rasulullah, kami sahabatmu."
Nabi bersabda, "Bagaimana mungkin kalian tak beriman, padahal aku berada di tengah-tengah kalian. Telah kalian saksikan apa yang kalian saksikan."
Menurut hadis ini, mungkin sebagian sahabat beriman karena menyaksikan mukjizat dan peristiwa-peristiwa agung yang menyertai kenabian Rasulullah Saw. Al-Fakhr al-Razi dalam tafsir Al-Kabir, meneruskannya dengan mengabarkan sabda Nabi:
“Yang paling menakjubkan imannya adalah mereka yang datang setelah kalian. Mereka yang beriman kepadaku padahal aku tidak berada di tengah mereka. Mereka yang mengimaniku tanpa pernah berjumpa denganku, yang mengikuti ajaranku seraya merindukanku. Duhai betapa aku merindukan mereka (diulang sampai tiga kali). Merekalah saudara-saudaraku.
Para sahabat berkata, “Bukankah kami ini saudaramu juga, Ya Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Antum Ashhabi. Kalian adalah sahabat-sahabatku. (Sedangkan) Merekalah saudara-saudaraku."
Subhanallah... Mungkinkah yang disebut Nabi adalah kita? Orang yang hidup setelah zaman Nabi. Yang begitu mencintai Rasul, padahal tak sekalipun pernah bertemu Yang begitu merindukan beliau, padahal tak pernah sekalipun bertatap muka dengan beliau. Yang sangat mencintai sunnah-sunnah beliau, tanpa ada sedikitpun keraguan dalam hatinya. Benarkah kita yang disebut?
Coba tanyakan pada hatimu. Seberapa besar kita mencintai Rasul. Seberapa besar kita merindukan Rasul, sehingga Rasulpun merindukan kita. Insya Allah... Sebuah rindu yang tiada bertepi pada Rasul Muhammad saw.
Sedikit renungan, dalam mencapai kasih sayang Allah dan Rasul...
Semoga bermanfaat...
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar. Tampilkan semua postingan
Selasa, 17 Januari 2012
Seandainya kita hidup di zaman Rasulullah...
Minggu, 15 Januari 2012
manfaat rajin introspeksi diri
Setelah kita mengetahui cara-cara mengevaluasi diri, perlu kiranya kita tahu apa manfaat dari mengintrospeksi diri. Dengan mengetahui hal ini barangkali kita rajin untuk merutinkannya setiap saat.
Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:
Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan
Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,
Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam,
Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.
Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” [Hasan. HR. Ahmad].
Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.
Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?
Keempat, terbebas dari sifat nifak
Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,
Ibnu Abi Malikah juga berkata,
Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,
Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,
Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Disadur dari artikel al-Muraja’ah wa at-Tashhih
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.ikhwanmuslim.com, dipublish ulang oleh www.remajaislam.com
Mengintrospeksi diri memiliki beberapa faedah, yaitu:
Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan
Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,
وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا
“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” [HR. Tirmidzi].Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabi shallallahu alaihi wa sallam,
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama”Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
حتى يراجعوا دينهم
“Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka” [Shahih. HR. Abu Dawud].Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.
Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia
Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” [Hasan. HR. Ahmad].
Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.
Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia
Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا ” مَرَّتَيْنِ
“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai” [Sanadnya shahih. HR. Ahmad].Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?
Keempat, terbebas dari sifat nifak
Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,
مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا
“Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).”Ibnu Abi Malikah juga berkata,
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ
“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail” [HR. Bukhari].Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,
إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ
“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” [Fath al-Baari 1/111].Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,
إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11).Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.
Disadur dari artikel al-Muraja’ah wa at-Tashhih
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.ikhwanmuslim.com, dipublish ulang oleh www.remajaislam.com
Langganan:
Postingan (Atom)